Kamis, 23 Desember 2010

::DEFINISI TIK::

Teknologi Informasi dan
Komunikasi (TIK) , atau dalam bahasa Inggris dikenal
dengan istilah Information
and Communication
Technologies (ICT), adalah
payung besar terminologi
yang mencakup seluruh peralatan teknis untuk
memproses dan
menyampaikan informasi. TIK
mencakup dua aspek yaitu teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Teknologi informasi meliputi segala hal yang berkaitan
dengan proses, penggunaan
sebagai alat bantu, manipulasi,
dan pengelolaan informasi.
Sedangkan teknologi komunikasi adalah segala sesuatu yang berkaitan
dengan penggunaan alat
bantu untuk memproses dan
mentransfer data dari
perangkat yang satu ke
lainnya. Oleh karena itu, teknologi informasi dan
teknologi komunikasi adalah
dua buah konsep yang tidak
terpisahkan. Jadi Teknologi
Informasi dan Komunikasi
mengandung pengertian luas yaitu segala kegiatan yang
terkait dengan pemrosesan,
manipulasi, pengelolaan,
pemindahan informasi antar media. Istilah TIK muncul setelah adanya perpaduan
antara teknologi komputer (baik perangkat keras maupun perangkat lunak ) dengan teknologi komunikasi
pada pertengahan abad ke-20 . Perpaduan kedua teknologi
tersebut berkembang pesat
melampaui bidang teknologi
lainnya. Hingga awal abad
ke-21 TIK masih terus
mengalami berbagai perubahan dan belum terlihat
titik jenuhnya. Sejarah Ada beberapa tonggak
perkembangan teknologi
yang secara nyata memberi
sumbangan terhadap
perkembangan TIK hingga
saat ini. Pertama yaitu temuan telepon oleh Alexander Graham Bell pada tahun 1875. Temuan ini kemudian
berkembang menjadi
pengadaan jaringan
komunikasi dengan kabel yang meliputi seluruh daratan Amerika , bahkan kemudian diikuti pemasangan kabel
komunikasi trans-atlantik.
Jaringan telepon ini
merupakan infrastruktur
masif pertama yang dibangun
manusia untuk komunikasi global. Memasuki abad ke-20,
tepatnya antara tahun 1910-1920, terwujud sebuah transmisi suara tanpa kabel
melalui siaran radio AM yang
pertama. Komunikasi suara
tanpa kabel ini pun segera
berkembang pesat. Kemudian
diikuti pula oleh transmisi audio-visual tanpa kabel, yang
berwujud siaran televisi pada tahun 1940-an. Komputer elektronik pertama beroperasi pada tahun 1943. Lalu diikuti oleh tahapan miniaturisasi komponen elektronik melalui penemuan transistor pada tahun 1947 dan rangkaian terpadu (integrated
electronics) pada tahun 1957. Perkembangan teknologi elektronika , yang merupakan cikal bakal TIK saat ini,
mendapatkan momen
emasnya pada era Perang Dingin. Persaingan IPTEK antara blok Barat (Amerika
Serikat) dan blok Timur (dulu Uni Soviet) justru memacu
perkembangan teknologi
elektronika lewat upaya
miniaturisasi rangkaian
elektronik untuk pengendali
pesawat ruang angkasa maupun mesin-mesin perang.
Miniaturisasi komponen
elektronik, melalui penciptaan
rangkaian terpadu, pada
puncaknya melahirkan mikroprosesor . Mikroprosesor inilah yang menjadi ‘otak ’ perangkat keras komputer
dan terus berevolusi sampai
saat ini. Perangkat
telekomunikasi berkembang
pesat saat teknologi digital mulai digunakan
menggantikan teknologi analog. Teknologi analog mulai terasa menampakkan
batas-batas maksimal
pengeksplorasiannya.
Digitalisasi perangkat
telekomunikasi kemudian
berkonvergensi dengan perangkat komputer yang
sejak awal merupakan
perangkat yang mengadopsi
teknologi digital. Produk hasil
konvergensi inilah yang saat
ini muncul dalam bentuk telepon seluler . Di atas infrastruktur telekomunikasi dan komputasi ini kandungan isi (content) berupa multimedia mendapatkan tempat yang tepat untuk
berkembang. Konvergensi telekomunikasi - komputasi multimedia inilah yang
menjadi ciri abad ke-21 , sebagaimana abad ke-18 dicirikan oleh revolusi
industri. Bila revolusi industri
menjadikan mesin-mesin
sebagai pengganti ‘otot ’ manusia, maka revolusi digital
(karena konvergensi
telekomunikasi - komputasi
multimedia terjadi melalui
implementasi teknologi
digital) menciptakan mesin- mesin yang mengganti (atau
setidaknya meningkatkan
kemampuan) ‘otak ’ manusia. Penerapan TIK dalam
Pendidikan di Indonesia Indonesia pernah
menggunakan istilah telematika (telematics) untuk arti yang kurang lebih sama
dengan TIK yang kita kenal
saat ini. Encarta Dictionary
mendeskripsikan telematics
sebagai telecommunication +
informatics (telekomunikasi + informatika ) meskipun sebelumnya kata itu
bermakna science of data
transmission. Pengolahan
informasi dan
pendistribusiannya melalui
jaringan telekomunikasi membuka banyak peluang
untuk dimanfaatkan di
berbagai bidang kehidupan
manusia, termasuk salah
satunya bidang pendidikan.
Ide untuk menggunakan mesin-belajar, membuat
simulasi proses-proses yang
rumit, animasi proses-proses
yang sulit dideskripsikan
sangat menarik minat praktisi
pembelajaran. Tambahan lagi, kemungkinan untuk melayani
pembelajaran yang tak
terkendala waktu dan tempat
juga dapat difasilitasi oleh TIK.
Sejalan dengan itu mulailah
bermunculan berbagai jargon berawalan e, mulai dari e- book, e-learning, e-laboratory, e-education, e-library, dan
sebagainya. Awalan e
bermakna electronics yang
secara implisit dimaknai
berdasar teknologi
elektronika digital. Pemanfaatan TIK dalam
pembelajaran di Indonesia
telah memiliki sejarah yang
cukup panjang. Inisiatif
menyelenggarakan siaran
radio pendidikan dan televisi pendidikan merupakan upaya
melakukan penyebaran
informasi ke satuan-satuan
pendidikan yang tersebar di
seluruh nusantara . Hal ini adalah wujud dari kesadaran
untuk mengoptimalkan
pendayagunaan teknologi
dalam membantu proses
pembelajaran masyarakat.
Kelemahan utama siaran radio maupun televisi pendidikan
adalah tidak adanya feedback
yang seketika. Siaran bersifat
searah yaitu dari narasumber
atau fasilitator kepada
pembelajar. Introduksi komputer dengan
kemampuannya mengolah
dan menyajikan tayangan
multimedia (teks, grafis,
gambar, suara, dan gambar
bergerak) memberikan peluang baru untuk mengatasi
kelemahan yang tidak dimiliki
siaran radio dan televisi. Bila
televisi hanya mampu
memberikan informasi searah
(terlebih jika materi tayangannya adalah materi
hasil rekaman), pembelajaran
berbasis teknologi internet
memberikan peluang
berinteraksi baik secara
sinkron (real time) maupun asinkron (delayed).
Pembelajaran berbasis Internet memungkinkan terjadinya pembelajaran
secara sinkron dengan
keunggulan utama bahwa
pembelajar maupun fasilitator
tidak harus berada di satu
tempat yang sama. Pemanfaatan teknologi video conference yang dijalankan dengan menggunakan
teknologi Internet
memungkinkan pembelajar
berada di mana saja sepanjang
terhubung ke jaringan
komputer. Selain aplikasi unggulan seperti itu, beberapa
peluang lain yang lebih
sederhana dan lebih murah
juga dapat dikembangkan
sejalan dengan kemajuan TIK
saat ini. Buku Elektronik Buku elektronik atau e-book adalah salah satu teknologi
yang memanfaatkan
komputer untuk
menayangkan informasi
multimedia dalam bentuk
yang ringkas dan dinamis. Dalam sebuah e-book dapat
diintegrasikan tayangan
suara, grafik, gambar, animasi,
maupun movie sehingga
informasi yang disajikan lebih
kaya dibandingkan dengan buku konvensional. Jenis e-
book paling sederhana adalah
yang sekedar memindahkan
buku konvensional menjadi
bentuk elektronik yang
ditayangkan oleh komputer. Dengan teknologi ini, ratusan
buku dapat disimpan dalam
satu keping CD atau compact disk (kapasitas sekitar 700MB), DVD atau digital versatile disk (kapasitas 4,7 sampai 8,5 GB)
maupun flashdisk (saat ini kapasitas yang tersedia
sampai 16 GB). Bentuk yang
lebih kompleks dan
memerlukan rancangan yang
lebih cermat misalnya pada Microsoft Encarta dan Encyclopedia Britannica yang merupakan ensiklopedi dalam
format multimedia. Format
multimedia memungkinkan e-
book menyediakan tidak saja
informasi tertulis tetapi juga
suara, gambar, movie dan unsur multimedia lainnya.
Penjelasan tentang satu jenis
musik misalnya, dapat disertai
dengan cuplikan suara jenis
musik tersebut sehingga
pengguna dapat dengan jelas memahami apa yang
dimaksud oleh penyaji. E-learning Beragam definisi dapat
ditemukan untuk e-learning. Victoria L. Tinio, misalnya,
menyatakan bahwa e-
learning meliputi
pembelajaran pada semua
tingkatan, formal maupun
nonformal, yang menggunakan jaringan
komputer ( intranet maupun ekstranet ) untuk pengantaran bahan ajar, interaksi, dan/atau
fasilitasi. Untuk pembelajaran
yang sebagian prosesnya
berlangsung dengan bantuan
jaringan internet sering
disebut sebagai online learning. Definisi yang lebih
luas dikemukakan pada
working paper SEAMOLEC,
yakni e-learning adalah
pembelajaran melalui jasa
elektronik. Meski beragam definisi namun pada dasarnya
disetujui bahwa e-learning
adalah pembelajaran dengan
memanfaatkan teknologi
elektronik sebagai sarana
penyajian dan distribusi informasi. Dalam definisi
tersebut tercakup siaran radio
maupun televisi pendidikan
sebagai salah satu bentuk e-
learning. Meskipun radio dan
televisi pendidikan adalah salah satu bentuk e-learning,
pada umumnya disepakati
bahwa e-learning mencapai
bentuk puncaknya setelah
bersinergi dengan teknologi
internet. Internet-based learning atau web-based
learning dalam bentuk paling
sederhana adalah website yang dimanfaatkan untuk
menyajikan materi-materi
pembelajaran. Cara ini
memungkinkan pembelajar
mengakses sumber belajar
yang disediakan oleh narasumber atau fasilitator
kapanpun dikehendaki. Bila
diperlukan dapat pula
disediakan mailing list khusus untuk situs pembelajaran
tersebut yang berfungsi
sebagai forum diskusi. Fasilitas
e-learning yang lengkap
disediakan oleh perangkat
lunak khusus yang disebut perangkat lunak pengelola
pembelajaran atau LMS
(learning management
system). LMS mutakhir
berjalan berbasis teknologi
internet sehingga dapat diakses dari manapun selama
tersedia akses ke internet.
Fasilitas yang disediakan
meliputi pengelolaan siswa
atau peserta didik,
pengelolaan materi pembelajaran, pengelolaan
proses pembelajaran
termasuk pengelolaan
evaluasi pembelajaran serta
pengelolaan komunikasi
antara pembelajar dengan fasilitator-fasilitatornya.
Fasilitas ini memungkinkan
kegiatan belajar dikelola
tanpa adanya tatap muka
langsung di antara pihak-
pihak yang terlibat (administrator, fasilitator,
peserta didik atau
pembelajar). ‘Kehadiran ’ pihak-pihak yang terlibat
diwakili oleh e-mail, kanal chatting , atau melalui video conference . Referensi Haryanto, Edy. (2008).
Teknologi Informasi dan
Komunikasi: Konsep dan
Perkembangannya.
Pemanfaatan Teknologi
Informasi dan Komunikasi Sebagai Media Pembelajaran

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar